Oktober 2008

WORKSHOP” Powerful People Development ”(DISC Approach)

WORKSHOP” Powerful People Development ”(DISC Approach)

Analisis profil merupakan suatu terobosan baru dalam menganalisis kemampuan seseorang untuk memegang suatu jabatan atau melaksanakan tugas dan pekerjaannya. Manajemen Sumber Daya Manusia akan sangat efektif jika memasukkan unsur pemahaman akan karakter dan perilaku dari individu mereka.Dr. William Marston mendeskripsikan teori bahwa perilaku seseorang merupakan fungsi dari lingkungan individu yang bersangkutan. Hal ini digambarkan dalam suatu skala reaksi terhadap lingkungan yang diukur secara kontinum.

PELATIHAN”TES PAPI KOSTICK”

Tes Papi Kostick saat ini mulai sering digunakan dalam lingkup HRD di suatu perusahaan / organisasi. Tes ini merupakan salah satu tes kepribadian yang tercermin dalam tingkah laku yang didasarkan pada kategorisasi. Papi mengukur role dan need individu dalam kaitannya dengan situasi kerja. Bagaimana konsep serta administrasi dari tes ini ? Bagaimana scoring dan interpretasinya agar dapat menggambarkan individu secara lengkap untuk setting dunia kerja? Ingin tahu lebih banyak tentang Tes ini? Temukan jawabannya dalam acara :
PELATIHAN”TES PAPI KOSTICK”
Dengan Nara Sumber :Drs.

WORKSHOP” INTEGRASI ALAT TES PSIKOLOGI ”( Tes IST, PAULI,EPPS,PAPI KOSTIK,GRAFIS & WARTEGG ) & PENULISAN LAPORAN PSIKOLOGI

Anda ingin terampil dalam menggunakan alat tes , menggabungkan berbagai alat tes menjadi satu profil keperibadian dan Membuat laporan Psikologinya

WORKSHOP” INTEGRASI ALAT TES PSIKOLOGI ”( Tes IST, PAULI,EPPS,PAPI KOSTIK,GRAFIS & WARTEGG ) & PENULISAN LAPORAN PSIKOLOGI

Keterampilan menggabungkan battery tes ( Integrasi Alat Tes ) merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh setiap calon Psikolog maupun para Psikolog yang saat ini berkecimpung dalam dunia kerja ( HRD ),maupun pendidikan .Bagaimana kita dapat mengetahui tehnik mengintegrasikan beberapa instrumen Psikologi

RUU Sisdiknas "Versus" Standar HAM

RUU Sisdiknas "Versus" Standar HAM

Oleh Mohammad Farid

SETELAH mendapat kritik dari berbagai kalangan, Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasionalmengalami beberapa perubahan terutama menyangkut ketentuan pendidikan agama. Meski demikian, beberapa masalah terutama yang berhubungan dengan kesesuaian RUU atas standar-standar hak asasi manusia belum ditangani memadai. Tulisan ini mengulas tingkat keselarasan RUU atas standar HAM yang diakui secara universal, terutama hak atas pendidikan.

Rujukan utama ulasan ini berdasar dua fakta HAM paling relevan: International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights atau Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya–KIHESB (belum diratifikasi oleh Indonesia), serta Convention on the Righst of the Child atau Konvensi Hak Anak–KHA (sudah diratifikasi melalui Keppres No 36/1990). Sebagai tambahan, General Comment 13 (1999) dari Komite Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya menyangkut ketentuan Pasal 13 KIHESB tentang hak atas pendidikan juga dijadikan dasar rujukan mengingat Komite berwenang memberi interpretasi otoritatif atas ketentuan-ketentuan Kovenan.

Khusus menyangkut ketentuan pendidikan agama dan pengakuan resmi negara atas agama (atau agama-agama) , ulasan ini mau tidak mau bersinggungan dengan hak dan kebebasan sipil.

Laskar Pelangi

Ada hal yang menggelitik saya dengan booming Laskar Pelangi, salah satunya adalah komentar teman kuliah saya yang mengatakan "Bohong kalau Anda tidak punya uang, dan kalau Anda memang serius menjadi guru maka Anda harus menonton Laskar Pelangi, agar diingatkan kembali mengenai kewajiban sebagai guru."

Hmm ... saya hanya tersenyum simpul ketika teman saya menyampaikan hal tersebut. Mungkin pengalaman saya yang sudah melanglang buana sampai di negeri seberang, kebiasaan saya yang membaca berbagai bahan dari internet dengan menggunakan pda phone, atau koleksi buku-buku psikologi berbahasa Inggris yang membuat teman saya berpikir bahwa saya memiliki banyak keuntungan dari sekolah ini. Segala sesuatu yang sebenarnya merupakan sisa-sisa kejayaan finansial di masa lampau, jauh sebelum saya mendirikan sekolah ini. Bedanya, saya memang suka membaca dan oprek komputer, jadi barang-barang tersebut selalu terlihat baru dan mengikuti perkembangan jaman.

Sayang sekali, masih saja ada orang yang melihat orang lain hanya dengan penampilan fisik.