Februari 2009

Indahnya berbagi

Kali ini saya ingin bercerita tentang berbagi.

Di sekolah, salah satu rutinitas yang diajarkan pada anak-anak adalah berbagi, bukan sekedar meminta atau memberi.  Terbayang bagaimana sulitnya bukan?

Jangankan anak-anak, kita yang dewasa-pun seringkali "tidak rela" untuk melepaskan sebagian yang telah kita genggam untuk membantu orang lain.  Ada saja justifikasi bagi kita untuk menghindari "lepasnya" sesuatu yang telah kita miliki.

  • "Ah, itu pengemis khan diorganisir, bukan orang-orang yang benar-benar perlu"
  • "Ah, anak-anak jalanan itu kalau dikasih uang malah dipakai buat yang nggak-nggak."
  • "Ah, hutang masih numpuk, pastinya hitungan zakat nggak bakal kena ni."

dan masih banyak lagi alasan bagi kita untuk membenarkan tindakan kita untuk tidak berbagi.

Hmm ...

Saya punya kisah tentang prinsip berbagi ini ...

Helen Keller

ditulis oleh Fitri Nurjana untuk tugas kuliah

Seorang anak dilahirkan untuk belajar dan mendapatkan pembelajaran, meskipun ia mempunyai keterbatasan dalam memperoleh pembelajaran tersebut, baik keterbatasan pada fisik maupun psikisnya.

Helen Keller dilahirkan normal di Tuscumbia, Alabama pada tahun 1880. Ketika dirinya berusia 19 bulan, ia diserang penyakit misterius yang menyebabkannya tidak bisa melihat (buta) dan tidak bisa mendengar (tuli).

Inisiasi Bayi yang Baru Lahir

Pembahasan Artikel :

Inisiasi Bayi Yg Baru Lahir

Oleh : Fitri Nurjana

FEEDING DISORDER DAN EATING DISORDER PADA ANAK TUNAGANDA

Disusun Oleh Fitri Nurjana untuk tugas kuliah

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia harus dilakukan sejak dini, sistematis dan berkesinambungan. Optimalisasi tumbuh dan kembang anak sejak dini adalah menjadi prioritas utama. Sehingga, kita dapat mencegah atau mengetahui sejak dini gangguan dan kelainan pada anak, terutama anak tunaganda. Salah satu masalah yang sering dialami adalah kesulitan pemberian makan pada anak, yang secara langsung mengganggu tumbuh kembang anak.
Pemberian makan pada anak memang sering menjadi masalah buat orangtua atau pengasuh anak. Keluhan tersebut sering dikeluhkan orang tua kepada dokter yang merawat anaknya. Lama-kelamaan hal ini dianggap biasa, sehingga akhirnya timbul komplikasi dan gangguan tumbuh kembang lainnya pada anak. Salah satu keterlambatan penanganan masalah tersebut adalah pemberian vitamin tanpa mencari penyebabnya sehingga kesulitan makan tersebut terjadi berkepanjangan. Akhirnya orang tua berpindah-pindah dokter dan berganti-ganti vitamin tapi tampak anak kesulitan makannya tidak membaik. Sering juga terjadi bahwa kesulitan makan tersebut dianggap dan diobati sebagai infeksi tuberkulosis yang belum tentu benar diderita oleh anak.
Faktor kesulitan makan pada anak inilah yang sering dialami oleh sekitar 25% pada usia anak, jumlah akan meningkat sekitar 40-70% pada anak yang lahir prematur atau dengan penyakit kronik. Kesulitan makan pada anak sering membuat masalah tersendiri bagi orang tua, bahkan dokter yang merawatnya. Sebuah klinik perkembangan melaporkan jenis kesulitan makan terbanyak adalah anak yang hanya mau makanan lumat atau cair, kesulitan mengunyah dan menelan dan kebiasaan makan yang aneh dan ganjil.
Dengan penanganan yang tepat, kesulitan makan pada anak yang optimal diharapkan dapat mencegah komplikasi yang ditimbulkan, sehingga dapat meningkatkan kualitas anak Indonesia dalam menghadapi persaingan di era globalisasi mendatang khususnya. Tumbuh kembang dalam usia anak sangat menentukan kualitas seseorang bila sudah dewasa nantinya.
Walaupun hingga saat ini belum diketemukan adanya anak tunaganda yang mengalami gangguan pola makan (eating disorder). Namun masalah yang sering muncul pada diri mereka adalah susah makan, picky eater (pilih-pilih makanan), dan susah mengontrol nafsu makan/makan melulu. Sedangkan, gangguan yang sering terjadi pada anak-anak usia >6 bulan adalah susah makan.
Oleh sebab itu, permasalahan akan kami batasi hanya dengan membahas “feeding disorder, eating disorder, pada anak tunaganda.”

Landasan Yuridis Pendidikan Inklusi

1. UUD 1945 (amandemen)

Pasal 31

  • ayat (1) : “Setiap warga negara berhak mendapatpendidikan”
  • ayat (2) : “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”

2. UU No. 20 tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional :

Pasal 3

  • Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Kelompok Anak Berkebutuhan Khusus/Berkelainan

  1. Anak Lambat Belajar (Inteligensi berada pada taraf perbatasan (borderline) dengan IQ 70 –85 (berdasarkan tes baku))
  2. Anak Berkesulitan Belajar (Gang.

Anak Tunanetra

Definisi :

Tunanetra adalah gangguan daya penglihatan, berupa kebutaan menyeluruh atau sebagian, dan walaupun telah diberi pertolongan dengan alat-alat bantu khusus, mereka masih tetap memerlukan pendidikan khusus

Ciri-ciri :

  1. Tidak mampu melihat
  2. Tidak mampu mengenali orang pada jarak 6 meter
  3. Kerusakan nyata pada kedua bola mata
  4. Sering meraba-raba/tersandung waktu berjalan
  5. Mengalami kesulitan saat mengambil benda kecil disekitarnya
  6. Bagian bola mata yang hitam berwarna keruh/bersisik/kering

Anak Tunarungu

Definisi :

  • Keadaan kehilangan pendengaran meliputi seluruh gradasi/tingkatan baik ringan, sedang, berat dan sangat berat, yang akan mengakibatkan pada gangguan komunikasi dan bahasa.

Anak Tunagrahita

Definisi :

  • anak tunagrahita adalah individu yang secara signifikan memiliki intelegensi dibawah intelegensi normal. Menurut Standford-Binet Score dan Wiscr-R Score, apabila ditinjau dari kurva normal, anak tunagrahita berada di sebelah kiri kurva yaitu pada posisi -2, dengan skor inteligensi yang merentang dari 30 sampai 78.

Ketunagrahitaan bermanifestasi dalam:

  • Kesulitan dalam “Adaptive Behavior” atau penyesuaian perilaku.

Sejarah Pendidikan Inklusif di Benua Eropa

Pendidikan khusus dapat dijelaskan secara singkat sebagai pendidikan bagi individu yang berlebutuhan khusus dan menyandang kecacatan. Fokus utamanya adalah adanya kemungkinan dan hambatan dalam proses belajar dan mengajar yang terjadi di lingkungan pendidikan, khususnya lingkungan sekolah.