Badai Pasti Berlalu
Hampir delapan tahun telah berlalu sejak saya, mbak Widya, Irma, dan almarhumah mbak Dewanti mempersiapkan Bintang Bangsaku untuk dapat berdiri tegak dan menyediakan jasa pendidikan yang ideal bagi anak-anak kecil penerus bangsa ini. Hanya berbekal idealisme dan sedikit modal yang diperoleh dari menjual mobil pribadi untuk menyewa rumah di pinggir jalan besar yang dekat dengan kantor kami bekerja.
Tidak ada keinginan untuk menjadi pengusaha pendidikan seperti halnya rekan-rekan kami yang selalu menanyakan "Kapan BEP-nya?". Dalam hati dan pikiran kami yang ada hanyalah idealisme untuk mewujudkan pendidikan anak usia dini yang ideal dan terjangkau oleh masyarakat kebanyakan, yang kami terakan dalam visi Bintang Bangsaku berdasarkan pada filosofi yang sederhana dan menjabarkannya dalam misi yang berlangsung dalam batasan-batasan prinsip.
Saat ini ...
Walaupun Bintang Bangsaku yang sekarang sudah jauh lebih maju dibandingkan dengan saat berdirinya beberapa tahun yang lalu, masih panjang perjalanan saya dan teman-teman untuk bisa mencapai idealisme tersebut. Bukan jalan tol yang mulus yang pernah, sedang, dan akan kami hadapi. Tetapi jalan yang beronak dan berduri, yang menuntut pengorbanan, perjuangan, dan harapan yang akan saya lalui bersama teman-teman di Bintang Bangsaku.
Kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti. Bahagia melihat anak-anak yang kami dampingi berhasil memasuki sekolah-sekolah yang diidamkan. Bahagia mendengarkan celoteh riang, tingkah laku yang aneh dan lucu dan anak-anak, dan kehebohan-kehebohan yang mereka timbulkan di setiap harinya.
Sedih ketika ada orang tua yang tidak lagi mempercayakan anaknya hanya karena ketidaksabaran mereka menunggu perkembangan alami anaknya. Sedih ketika anak-anak berkebutuhan khusus kami mengalami kesulitan untuk mencari sekolah lanjutan. Sedih karena merasa sendirian untuk tetap menjamin keberlangsungan sekolah di tengah krisis ekonomi seperti ini.
Terkena imbas dari krisis ekonomi global?
Yah, Bintang Bangsaku memang sempat limbung terkena krisis finansial.
Beberapa bulan lamanya saya sempat dirundung rasa khawatir dengan keberlangsungan sekolah karena permasalahan kesulitan keuangan, semenjak ambruknya gedung sekolah beberapa waktu yang lalu belum teratasi dengan baik, sementara pembayaran kontrak gedung yang baru saja berhasil kami bangun kembali sudah jatuh tempo.
Bagaimana mau segera sembuh keuangannya? Harga-harga melonjak sedemikian tinggi sementara semakin banyak orang tua yang menunda pembayaran biaya spp maupun uang pangkal. Pengeluaran berlipat, pemasukan minim. Aduh.
Andaikan kami bertega hati untuk mengeluarkan anak-anak yang tidak membayar SPP atau uang pangkal, mungkin beban operasional yang merupakan konsekuensi logis dari fasilitas sekolah yang kami sediakan tidaklah akan seberat itu. Tetapi, siapa yang tega ketika wajah polos anak-anak terlihat begitu ceria saat memasuki halaman sekolah?
Andaikan saya juga bertega hati untuk menuntut pengembalian dana renovasi gedung pada pemilik, mungkin saya tidak perlu melepaskan aset-aset pribadi saya hanya untuk membayar uang sewa. Namun, siapa yang akan tega dengan keluarga Pak Prodjo yang sudah sedemikian baiknya mengijinkan kami tetap menyewa dengan biaya ringan di tengah tawaran menggiurkan dari banyak pengusaha untuk mengambil alih gedung ini?
Akhirnya, walaupun dengan mengorbankan banyak hal dan berkompromi dengan kondisi yang sulit akhirnya badai itupun dapat kami lalui dan kami dapat membayar kontrak gedung untuk sekian tahun ke depan.
Tak ada rasa lain yang kami rasakan selain rasa syukur atas ridho-Nya dalam setiap langkah kami.
Hmm ...
Saya menuliskan cerita di atas tidak dimaksudkan untuk menggugah keharuan para pembaca atau bahkan menimbulkan rasa khawatir bagi orang tua siswa Bintang Bangsaku. Sama sekali tidak. Saya hanya ingin berbagi rasa.
Saya tahu ...
Kesulitan financial, keruwetan birokrasi, minimnya promosi, kurangnya kesejahteraan bagi karyawan, atau bahkan modal yang belum kunjung kembali, mungkin adalah makanan sehari-hari bagi penyelenggara jasa pendidikan.
Hal ini tidak saya pungkiri karena memang pada kenyataannya banyak sekali institusi pendidikan yang kondisinya sangat memprihatinkan, jauh lebih mengharukan jika dibandingkan dengan TK yang saya pimpin. Tak ada kata lain yang terucap kecuali “Gusti Allah mboten sare”.
Kerikil demi kerikil, bahkan badai demi badai, pernah kami hadapi dan tidak menutup kemungkinan bahwa di masa depan kerikil dan badai itu akan datang lagi. Namun, sekali lagi, saya dan teman-teman di SBB yakin bahwa “Tuhan melihat kesulitan-kesulitan kita, mendengar harapan-harapan kita, dan mengetahui niat baik kita”
Saya harap, Anda semua, para penyelenggara jasa pendidikan mempunyai keyakinan yang sama dan tidak akan menutup sekolah yang Anda pimpin. Jangan matikan idealisme Anda demi kemajuan bangsa ini. Jangan sia-siakan usaha Anda membangun sekolah yang selama ini dilakukan hanya karena kerikil atau badai yang sedang menghadang.
Bagi Anda yang baru mau memulai, atau baru berencana untuk mendirikan KB/TK, mungkin artikel tentang tata cara ini dan artikel tentang fasilitas fisik ideal ini dapat membantu Anda.
Karena idealisme Anda semua, Indonesia bisa bangkit kembali. Tidak perlu pergi ke daerah konflik, bencana, dan lain sebagainya untuk membantu bangsa ini lepas dari keterpurukan, jika tetangga terdekat Anda masih memerlukan Anda. Anak-anak Indonesia, yang berada di sekitar Anda, sedang menanti uluran tangan Anda semua.
Salam, Yanti Depe


Komentar
Salut atas pilihan perjuangan
Salut atas pilihan perjuangan anda dan kawan kawan, Bagaimanapun untuk merubah bangsa ini menjadi merdeka dan lebih bermartabat adalah dengan mendidik anak anak dalam kepentingan yang terbaik mereka . Semua manusia lahir dengan kelebihan kelebihan mereka sendiri , hal ini yang perlu diaktualisasikan sesuai dengan perkembanganya masing-masing. Sepintas saya jadi ingat dengan Toto Chan........betapa indahnya dunia anak-anak. Bahwa saya pernah menjadi kanak kanak sih iya...tetapi ternyata ketika menghadapi anak anak saya lebih sering menggunakan otoritas sebagai orang dewasa. (atau reproduksi perilaku untuk menguatkan superioritas diri sendiri). Memang tidak ada jalan yang mudah untuk sebuah idealitas ...tetapi jikalau itu sudah menjadi pilihan ya kenapa tidak juga. Semua ada harganya ..termasuk keindahan yang dapat dinikmati oleh karenanya. Puji Syukur kepada Tuhan atas karuniaNya, Saya ikut bangga atas (jalan sulit) pilihan anda untuk menjadi (social) entrepeneur di bidang pendidikan. Salam Yang baik, KBN Salam kenal dan Salam Yang baik juga KBN, Terima kasih atas kebanggaannya dan doanya. Semoga (jalan sulit) akan berujung indah dan (social) entrepeneur tidak diplesetkan menjadi (sok sial) entah bener ... Saya pribadi bersyukur atas kehadiran teman-teman saya di SBB yang begitu kuatnya memegang idealisme demi anak-anak yang kami bimbing. Tanpa mereka, tidak mungkin saya masih bisa berdiri tegak seperti sekarang. Saya yakin kami tidak sendiri, pasti banyak sekali praktisi dunia pendidikan yang berani mengorbankan kepentingan pribadinya demi kemajuan siswa-siswanya. Semoga mereka semua diberkati oleh Tuhan YME dan mendapatkan rejeki yang halal sebagai timbal balik atas semua pengorbanannya. Amin. Salam, Yanti DepeKirim komentar